jtomi6842 Kemarin B. Indonesia Sekolah Menengah Atas Metamorfosa Rosa Malamnya, atau lebih tepatnya tengah malam, Abdul mendatangi kamar Rosa. Dilihatnya lampu kamar Rosa masih menyala. Hal itu sempat membuat Abdul gentar. Namun, nafsunya jauh lebih besar.”Hoek,” bunyi mulutnya ketika mengumpulkan lendir yang lengket di tenggorokan. Setiap selesai mengumpulkannya, Rosa akan meludah ke lantai. Hal itu ia ulangi sepanjang enam sampai tujuh langkah kaki. Sedari tadi ia bolak-balik dengan gelisah di lorong rumah. Begitu melihat adik iparnya sedang menyuapi anaknya di pintu dapur, Rosa melangkah mendekat ke arah mereka, dan tanpa tedeng aling-aling, ia meludahi piring nasi yang sedang dipegang iparnya. Buih berwarna kuning bercampur hijau terlihat di antara warna putih. Ipar Rosa menjerit, badannya gemetar menahan amarah. Rosa kemudian berlalu tanpa rasa bersalah, seolah yang baru dia lakukan sekadar meludah ke tanah. Adik Rosa, Rahmat, pulang mendapat cerita tidak mengenakkan dari istrinya. Dadanya panas seperti kawah gunung merapi yang hendak erupsi. Bergegas ia berlari menuju kamar Rosa. Ditendangnya pintu kamar itu sekeras ia mampu. Suara benturan di pintu mengagetkan Rosa. Tendangan kedua kembali dilayangkan Rahmat, tetapi suaranya tidak sekeras yang pertama. Meski begitu, cukup untuk membuat Rosa membuka kunci dan pintu kamarnya. ”Asu,” umpatnya pada Rahmat. Yang diumpat balas menampar. Kemudian melayangkan tendangan ke perut Rosa, membuat yang ditendang terjengkal tiga langkah ke belakang. ”Rizal!” teriak ibu mereka. ”Lihat adikmu ini, dia pukul kakaknya.” Rizal berlari lalu menarik tangan Rahmat dan membantingnya ke belakang. Ia pernah belajar beberapa jenis bela diri, membuatnya dengan mudah membanting Rahmat. Rosa berlari ke dapur. Sepasang kaki kecilnya begitu lincah melangkah. . Musababnya sederhana, Rosa melempari rumah salah seorang tetangganya dengan batu. Batu yang dilempar Rosa melayang ke arah kaca jendela dan memecahkan jendela rumah milik Rozak, saudagar paling kaya di kampungnya. Tuan rumah yang marah melaporkan Rosa ke polisi. Tapi polisi tidak bisa berbuat apa-apa, mereka tidak bisa menahan orang gila, atau setidaknya seperti itulah pendapat orang-orang tentang Rosa. Rosa melempar rumah Rozak dikarenakan ketika ia berjalan hendak membeli rokok ke warung, segerombol anak-anak meneriakinya orang gila. Anak-anak itu kemudian berlari ketika melihat Rosa mengambil batu. Mereka berlari riang setelah puas mengejek. Ketika salah satu anak dilihatnya masuk ke rumah Rozak, tanpa rasa ragu, Rosa melempar batu ke rumah paling mewah di kampung itu. Pulang diantar dua polisi, Rosa disambut oleh kakaknya. Rizal marah bukan mainan ketika mendengar cerita kedua polisi itu. Apalagi ditambah mendengar omelan Rozak yang tidak kurang-kurang diselipi makian pada keluarganya. Rozak memintanya untuk menjaga adiknya supaya tidak berkeliaran. ”Adikmu itu membahayakan warga,” sembur Rozak. Rizal yang malu kemudian menyeret tubuh Rosa ke dalam rumah. Yang dilakukannya bukan hal mudah karena Rosa, meski bertubuh kecil dan kurus, sangat beringas. Ia tidak henti memukul-mukul tubuh Rizal. 1. tentukan Tokoh dan Penokohan , Alur cerita , Latar : waktu , suasana ,tempat , Sudut pandang , Amanat , Gaya sertakan jelaskan dengan tepat !

Back to questions feed

    Link was copied to clipboardhttps://www.appqanda.com/q/3e3159de-fcfa-45a8-ade4-1fef639527a0Dismiss
  • jtomi6842 Kemarin B. Indonesia Sekolah Menengah Atas Metamorfosa Rosa Malamnya, atau lebih tepatnya tengah malam, Abdul mendatangi kamar Rosa. Dilihatnya lampu kamar Rosa masih menyala. Hal itu sempat membuat Abdul gentar. Namun, nafsunya jauh lebih besar.”Hoek,” bunyi mulutnya ketika mengumpulkan lendir yang lengket di tenggorokan. Setiap selesai mengumpulkannya, Rosa akan meludah ke lantai. Hal itu ia ulangi sepanjang enam sampai tujuh langkah kaki. Sedari tadi ia bolak-balik dengan gelisah di lorong rumah. Begitu melihat adik iparnya sedang menyuapi anaknya di pintu dapur, Rosa melangkah mendekat ke arah mereka, dan tanpa tedeng aling-aling, ia meludahi piring nasi yang sedang dipegang iparnya. Buih berwarna kuning bercampur hijau terlihat di antara warna putih. Ipar Rosa menjerit, badannya gemetar menahan amarah. Rosa kemudian berlalu tanpa rasa bersalah, seolah yang baru dia lakukan sekadar meludah ke tanah. Adik Rosa, Rahmat, pulang mendapat cerita tidak mengenakkan dari istrinya. Dadanya panas seperti kawah gunung merapi yang hendak erupsi. Bergegas ia berlari menuju kamar Rosa. Ditendangnya pintu kamar itu sekeras ia mampu. Suara benturan di pintu mengagetkan Rosa. Tendangan kedua kembali dilayangkan Rahmat, tetapi suaranya tidak sekeras yang pertama. Meski begitu, cukup untuk membuat Rosa membuka kunci dan pintu kamarnya. ”Asu,” umpatnya pada Rahmat. Yang diumpat balas menampar. Kemudian melayangkan tendangan ke perut Rosa, membuat yang ditendang terjengkal tiga langkah ke belakang. ”Rizal!” teriak ibu mereka. ”Lihat adikmu ini, dia pukul kakaknya.” Rizal berlari lalu menarik tangan Rahmat dan membantingnya ke belakang. Ia pernah belajar beberapa jenis bela diri, membuatnya dengan mudah membanting Rahmat. Rosa berlari ke dapur. Sepasang kaki kecilnya begitu lincah melangkah. . Musababnya sederhana, Rosa melempari rumah salah seorang tetangganya dengan batu. Batu yang dilempar Rosa melayang ke arah kaca jendela dan memecahkan jendela rumah milik Rozak, saudagar paling kaya di kampungnya. Tuan rumah yang marah melaporkan Rosa ke polisi. Tapi polisi tidak bisa berbuat apa-apa, mereka tidak bisa menahan orang gila, atau setidaknya seperti itulah pendapat orang-orang tentang Rosa. Rosa melempar rumah Rozak dikarenakan ketika ia berjalan hendak membeli rokok ke warung, segerombol anak-anak meneriakinya orang gila. Anak-anak itu kemudian berlari ketika melihat Rosa mengambil batu. Mereka berlari riang setelah puas mengejek. Ketika salah satu anak dilihatnya masuk ke rumah Rozak, tanpa rasa ragu, Rosa melempar batu ke rumah paling mewah di kampung itu. Pulang diantar dua polisi, Rosa disambut oleh kakaknya. Rizal marah bukan mainan ketika mendengar cerita kedua polisi itu. Apalagi ditambah mendengar omelan Rozak yang tidak kurang-kurang diselipi makian pada keluarganya. Rozak memintanya untuk menjaga adiknya supaya tidak berkeliaran. ”Adikmu itu membahayakan warga,” sembur Rozak. Rizal yang malu kemudian menyeret tubuh Rosa ke dalam rumah. Yang dilakukannya bukan hal mudah karena Rosa, meski bertubuh kecil dan kurus, sangat beringas. Ia tidak henti memukul-mukul tubuh Rizal. 1. tentukan Tokoh dan Penokohan , Alur cerita , Latar : waktu , suasana ,tempat , Sudut pandang , Amanat , Gaya sertakan jelaskan dengan tepat !

    4 months ago